Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Oktober 2020

Perbedaan Pacaran sama Tunangan?



Apa ada yang sudah tau perbedaan antara keduanya? 

Jika belum, mari kita bahas. 

Pacaran: 

- hubungan

- banyak tidak resmi bahkan setingan

- menurut agama tidak boleh/dosa

- orang tua tau/tidak tau

- sentimen masyarakat besar


Tunangan:

- hubungan

- kebanyakan resmi atau diresmikan

- menurut agama tidak boleh, kecuali sudah akad

- orang tua tau

- sentimen masyarakat kecil, hampir tidak ada

Kamis, 23 Maret 2017

LUPA BAHWA DIDUNIA INI HANYA SEMENTARA


Jika berbicara tentang hidup aaupun kehidupan, maka tidak akan luput juga berbicara yang menjalani kehidupan, terutama mahluk yang bernama manusia. Manusia ini unik sekaligus menarik, manusia bukannya tidak tau akan sesuatu hal, tetapi kadang manusia itu lupa atau sengaja melupakan diri.


Tetapi terlepas dari kodrat manusia yang memang tempatnya salah dan lupa. Kadang kita dibuat cukup bingung dengan kodrat manusia yang tercipta seperti itu, mungkin ini juga salah satu alasan kenapa manusia berbeda dari mahluk hidup yang lainnya, disamping manusia memang diberikan akal untuk berfikir. Juga mungkin ini alasan memberi tahu manusia bahwa Tuhan memiliki sifat yang pemaaf dan Maha memaafkan.

Kembali pada inti pembahsan, yaitu didunia ini kita sebagai manusia hanya sementara saja, bukan selamanya atau ada yang mengatakan bahwa manusia hanya singgah sesaat di bumi ini.

Kita tau, sadar bahkan yakin akan keberadaan manusia dibumi ini yang hanya sementara, tetapi entah kenapa kita manusia lebih banyak lupa daripada ingatnya akan hal itu. Kita baru ingat apabila ada yang mengingatkan atau ingat dengan sendirinya karena beberapa hal yang tidak disengaja, contohnya ketika kita mendengar seseorang telah meninggal dunia.

Betapa ramai manusia menjadi lupa daratan. Betapa ramai manusia menjadi ingkar. Betapa ramai manusia tidak dapat bersyukur. Betapa ramai manusia menjadi derhaka dan berkhianat. Mereka melupakan tujuan hidupnya ketika di dunia dan hanya mengejar kenikmatan dunia. Dunia yang dikejar akan berakhir. Tempat manusia hidup. Tempat manusia memuja kenikmatan. Semuanya menjadi sia-sia belaka.

Kehidupan di dunia merupakan permainan dan senda gurau. Ada kalanya menang ada kalanya kalah. Susah dan senang silih berganti. Senangnya merupakan kesenangan yang menipu, sedihnya merupakan kesengsaraan sementara. Itulah di namakan kehidupan di alam fana. Sungguh berbeda dengan kehidupan sejati dan abadi di akhirat  nanti. Barangsiapa senang, maka ia akan selamanya senang (Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan ini). Barangsiapa menderita, maka ia akan menderita selamanya (na’udzu billahi min zalik).

Bahkan ada yang mengibaratkan bahwa kehidupan di dunia ini sebagai sebuah drama sandiwara, dimana yang menjadi para pemainnya (aktornya) adalah kita manusia. Sedangkan yang menjadi panggung sandiwaranya adalah bumi yang kita tempai atau yang kita pijaki ini, sedangkan yang bertindak sebagai Sutaradaranya tak lain dan juga tak bukan adalah Tuhan yang mengatur semesta alam ini, yaitu Allah SWT.

Al-Quran menyebutkan bahawa kehidupan di dunia tidak lebih hanya main-main dan senda gurau semata:

Firman Allah SWT maksudnya: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Surah Al-An'Am ayat 32)

Firman-Nya lagi yang bermaksud: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Surah Al-Ankabut ayat 64)

Apabila kalian merasai kesukaran dan menghadapi banyak masaalah hidup di dunia ini, janganlah berputus asa dan rasa kecewa kerana sesungguhnya Allah SWT adalah tempat bergantung dan tempat di letakkan sepenuh pengharapan. Berdoalah bersungguh-sungguh kepada-Nya.

Dalam kehidupan ini ada bertingkat-tingkat tentang kenikmatan dunia. Manusia berlumba-lumba  mengejar, hingga kepayahan, dan umurnya habis, dan hidupnya tersungkur, hanya diarahkan mengejar kenikmatan dunia. Tak ada kenikmatan yang sejati. Kenikmatan yang diinginkan manusia dalam kehidupan itu hanyalah kenikmatan yang semuanya hanya ilusi. Khayalan dari manusia yang sudah menjadi tabiat hidupnya hanya untuk kenikmatan dan kemegahan.

Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan yang teragung dan terbesar, iaitu kenikmatan yang dirasai sepenuhnya di hari akhirat nanti. Kenikmatan akhirat itulah yang akan membawa hamba kepada kemuliaan yang kekal. Kerana itu, hakikatnya seorang mukmin, tidak mengejar kenikmatan dunia, yang tidak memiliki keuntungan apa-apa melainkan sedikit saja, dibandingkan dengan kenikmatan berupa kemuliaan disisi Allah Azza Wa Jalla.

Tidak ada maknanya kenikmatan dan kelazatan dunia seisinya, yang boleh membuat manusia menjadi lupa dan mabuk, sehingga terlena dengan kehidupan dunia. Kehidupan manusia yang sudah mabuk dunia itu, menjadi sujud, rukuk, dan ibadahnya hanya untuk memenuhi rasa kenikmatan dunia.

Hanyalah orang-orang mukmin, yang layak mendapatkan kenikmatan yang sejati, kerana pahala yang akan dikurniakan oleh Allah Rabbul alamin, sentiasa mengalir, ketika mereka makan, minum, berpakaian, tidur, terjaga, dan dalam perkahwinannya, dan semua amal mereka semata hanya diarahkan untuk mendapatkan reda-Nya. Tidak mencari reda selain-Nya. Apalagi, hanya ingin mendapatkan reda kepada manusia lainnya, yang dapat memberinya kenikmatan dunia. Itu bukan sifat mukmin yang hakiki.

Orang-orang mukmin kerinduan hanya pada kenikmatan atas keimanannya, ibadahnya, kerinduannya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla. Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan dunia itu, selalu akan menghalangi seseorang memperoleh kenikmatan akhirat dan bahkan mengantarkan dirinya kepada seksa neraka. Manusia yang matlamat hidupnya kepada kenikmatan dunia, akhirnya menjadikan harta-benda, pangkat, kekuasaan, dan makhluk-makhluk, serta berbagai bentuk berhala-hala, yang menyerupai tuhan, menjadi arah dan tujuan hidup mereka. Seakan semua yang ada itu, mampu memberikan kenikmatan kepada manusia yang bersifat kekal. Karena itu, ketika diakhirat mereka saling mencerca dan menyalahkan.

Marilah sama-sama kita jadikan kehidupaan di dunia ini sebagai medan untuk kita beramal dan menyediakan persiapan kita menuju alam akhirat. Tidak mungkin kita akan tenang dan berbahagia apabila membawa bekalan yang sedikit dan tidak berkualitas pula apabila menuju perjalanan yang jauh yaitu ke alam barzakh dan alam akhirat . Janganlah sia-siakan masa, umur, tenaga dan kekayaan  yang kita miliki tanpa kita membuat pelaburan untuk bekal kita kelak di sana, ketika itu apa yang akan menjadi pertukaran adalah amal-amal soleh, amal ibadah, amal kebajikan yang kita lakukan di dunia ini semata-mata kerana Allah SWT.

Disamping itu semua semoga kita dijadikan orang selalu ingat dan juga tidak selalu lupa bahwa kehidupan di dunia ini hanya tempat untuk menanam atau mengumpulkan bekal sebanyak yang kita mampu untuk melanjutkan perjalanan ke desa akhirat. Dan juga semoga kita dijadikan orang yang baik ketika meninggalkan dunia fana ini.

Seperti yang sering saya tuliskan “Jika tidak bisa masuk surga secara langsung, setidaknya jangan lama-lama din neraka!”

Renungkanlah dan bertindak segera tanpa di tunda-tunda lagi, karena umur tidak bisa menunggu kita walaupun hanya sedetik saja. Lagipula hidup tidak ada yang tau kapan kita akan meninggal, bisa saja nanti, nanti malam, besok, lusa atau bahkan satu detik lagi.

Baca Juga:
Dosa Yang Berulang 
KATA-KATA MUTIARA ISLAMI 
Kebutuhan Hamba
Dosa Yang Berulang

Minggu, 19 Maret 2017

Dosa Yang Berulang


Ada di antara kita yang mungkin belum tau apa itu dosa? jika belum, maka tidak lah salah jika saya jelaskan sedikit apa itu dosa, dari berbagai sudut pandang tentunya. Disebutkan dalam wikipedia, bahwa Dosa adalah suatu istilah yang terutama digunakan dalam konteks agama untuk menjelaskan tindakan yang melanggar norma atau aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan atau Wahyu Illahi.

Menurut Islam, Dosa (al-itsm) adalah perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau larangan agama. Manusia disebut oleh Allah sebagai makhluk yang selalu ingkar (kaffar) dan berbuat dosa (atsiim). Buktinya, saat ini, orang yang menikmati perbuatan dosanya semakin banyak.

Manusia juga banyak berbuat zhalim dan suka melampaui batas. "Janganlah para saksi menyembunyikan persaksian. Dan, siapa pun menyembunyikan persaksian itu, sesungguhnya, ia adalah orang yang berdosa hatinya" (QS al-Baqarah, 2: 283)

Lalu, apakah pengertian dosa menurut Rasulullah SAW? Beliau mengartikan dosa dengan kalimat: al-itsmu maa haaka fi shadrika wa karihta an yaththali'a 'alaihin naas, dosa adalah sesuatu yang mengganjal di dalam hati dan enggan diketahui oleh orang lain. Jelas sekali, dosa itu perbuatan yang bertentangan dengan hati nurani. Tindakan yang bertentangan dengan hati nurani itu biasa disebut maksiat.

Sedangkan menurut Ummat Kristen, Dosa adalah adalah pelanggaran cinta kasih terhadap Tuhan atau sesama yang dapat mengakibatkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah. Utamanya, dosa disebabkan karena manusia mencintai dirinya sendiri atau hal-hal lain sedemikian rupa sehingga menjauhkan diri dari cinta terhadap Allah.

Dosa juga di pandang sebagai perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, baik itu melalui pikiran, perkataan, perbuatan manusia.

Sedangkan Dosa menurut ajaran Budha artinya adalah kebencian. Memang kebencian menjadi penyebab paling besar dalam suatu kejahatan, namun tidak berarti semua kejahatan disebabkan oleh kebencian.

Baca juga:  LUPA BAHWA DIDUNIA INI HANYA SEMENTARA

Dosa: misalnya adalah seseorang yang memiliki dendam terhadap kelompok tertentu kemudian berusaha untuk menghabisi kelompok itu. Kebenciannya terhadap kelompok tersebut membuatnya melakukan kejahatan. Mungkin ini termasuk contoh yang paling jelas.

Dosa dalam agama Hindu diartikan sebagai karma buruk karena kebodohan, dimana kebodohan merupakan akar dari kejahatan. Dosa menimbulkan penderitaan, dan dosa pula yang mengantarkan atma ke dalam lingkaran kelahiran dan kematian. Dosa jugalah yang menyebabkan atma mendapat kehidupan di neraka dan mendapat badan yang tidak sempurna bila bereinkarnasi kembali.

Dosa memiliki banyak definisi dan sebutan lain, seperti sin (dalam bahasa Inggris), papam, patakam, kalmasam, duritam, agham, duskram,vrjinam, dan lain-lain (dalam bahasa Sansekerta). Dosa atau papa (dalam bahasa Jawa Kuno) berarti kebiasaan buruk, kejahatan, kesalahan, hukuman atau siksaan. Sementara itu dalam Virataparwa dikatakan bahwa dosa itu adalah kemalangan, kesukaran, keadaan yang tidak menyenangkan dan kesengsaraan. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa dosa merupakan kejahatan, keburukan, nakal dan hal-hal yang tidak baik yang bertentangan dengan ajaran Tuhan Yang Maha Esa, yang disebabkan oleh kebodohan. Dosa juga adalah hasil dari tindakan atau karma yang dilakukan secara tidak selaras dengan hukuman semesta yang mengakibatkan timbulnya duka cita dan penderitaan badan sebagai buahnya.

Sedangkan arti dosa menurut agama Khonghucu, saya tidak mendapatkan penjelasan yang cukup memadai, sehingga untuk menghindari kesalahan, say tidak memasukkannya dalam tulisan ini dan untuk agama lain yang tidak bisa saya sebutkan disini, bukan maksud untuk tidak menghormati, tapi lebih kepada kurangnya pengetahuan saya pribadi mengenai masing-masing agama yang ada di Indonesia Raya ini.

Tapi terlepas dari semua itu dan juga dalam garis besar dari berbagai macam agama yang ada di Indonesia ini, dapat saya simpulkan bahwa Dosa itu adalah sebuah kesalahan manusia ataupun individu, terhadap hukum atau norma yang telah ditetapkan oleh masing-masing agama.

Karena dosa itu adalah sebuah kesalahan, maka setiap kesalahan pasti ada konsekuensinya tersendiri dan pada umumnya terdapat suatu hukuman di dalam setiap kesalahan (Dosa). Jadi setiap manusia yang telah melakukan kesalahan atau dosa, maka harus siap pula dengan konsekuensi yang ada dibelakangnya.

Terlepas dari kodrat manusia yang memang sering melakukan salah, tapi manusia itu dapat belajar dan memperbaiki diri, dari kesalahan atau dosa yang telah dilakukannya. Karena manusia yang baik, adalah manusia yang dapat menjadi lebih baik setiap hari maupun setiap saat. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk selalu berbuat dosa, apalagi dosa yang sama. Terlebih lagi jika kita melakukan kesalahan yang sama tiap harinya dengan penuh kesadaran.
Seperti dalam sebuah pepatah, “manusia tidak boleh jatuh pada lubang yang sama dua kali”.

Kembali pada pokok atau inti bahasan, yaitu dosa yang terus berulang, entah itu di sengaja ataupun tidak disengaja, entah itu dilakukan dengan sadar ataupun tanpa sadar, dosa ya tetaplah sebuah dosa. Senang atau tidak senang, mau ataupun tidak mau, dosa yang kia lakukan sekarang, akan kembali pada diri kita sendiri. Jika tidak dalam waktu dekat, ya pasti akan kembali pada diri kita suatu saat nanti.

Ataupun jika dosa yang kita lakukan saat ini, tidak kembali pada diri kita, maka kemungkinan besar akan tiba pada anak cucu kita kelak. Jadi janganlah selalu melakukan dosa ataupun kesalahan, apalagi dosa yang terus menerus ber ulang-ulang. Karena dosa yang telah menjadi suatu kebiasaan, kadang kala dosa itu tanpa sadar, telah kita anggap sebagai sesuatu yang lumrah dan tentu saja kita anggap sebagai sesuatu yang sudah bukan perbuatan dosa lagi.

Ketika manusia melakukan kesalahan (dosa), dia menyadari dan mengakuinya, maka manusia ini lebih baik daripada manusia yang melakukan sebuah kesalahan, tapi dirinya tidak merasa bahwa telah melakukan kesalahan itu.

Setiap racun pasti ada penawarnya, maka dosa pun juga demikian, dosa juga mempunyai penawar, penawar dari sebuah kesalahan adalah dengan meminta maaf. Baik itu kesalahan (Dosa) pada Tuhan, pada manusia, hewan, tumbuhan, bahkan alam semesta ini. Tetapi bukan hanya meminta maaf saja, tapi juga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Karena dijaman sekarang ini, banyak manusia yang melakukan dosa, kemudian meminta maaf, berjanji tak akan mengulanginya lagi dan pada hari esoknya lagi dia melakukan dosa itu lagi, kemudian meminta maaf lagi, mengulangi dosa lagi, dan begitu seterusnya. Tapi untngnya Tuhan tak seperti manusia yang hanya bisa memaafkan untuk beberapa kali saja, tapi Tuhan selalu memaafkan manusia yang bahkan Tuhan tau bahwa manusia ini tobatnya tidak akan bertahan lama.

Jika dalam agama yang saya anut, minta maaf (tobat) semacam ini dinamakan dengan tobat sambal, yaitu tobat yang hanya menggebu diawal saja, tapi pada akhirnya hilang tak berbekas. Meskipun Tuhan Maha memafkan kesalahan manusia, bahkan  seberapa besar pun kesalahan manusia itu.

Semoga saja kita yang masih sering melakukan dosa yang berulang ini, cepat menyadarinya dan tak melakukan tobat sambal lagi. Karena yang ditakutkan adalah nafas kita terhenti disaat dosa ini kembali berulang. Semoga saja tidak… amin.

Baca Juga:
Dosa Yang Berulang 
KATA-KATA MUTIARA ISLAMI 
Kebutuhan Hamba

Selasa, 17 Januari 2017

Agar Ibadah Puasa Lebih Bermakna (Habis)

3 Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menjalankan Puasa Ramadhan
Syaikh Abdullah bin Jarillah menyebutkan beberapa hal yang seyogyanya diperhatikan oleh orang yang berpuasa. Di sini kami nukil secara ringkas, dengan disertai sedikit tambahan dan takhrij ringkas beberapa haditsnya.

1. Mengenal hukum-hukum puasa
Banyak kaum Muslimin yang memasuki bulan puasa ini tanpa bekal ilmu tentang puasa sama sekali. Celakanya, mereka juga tak begitu merasa perlu untuk belajar. Padahal Allah ta berfirman:
"Bertanyalah kepada para ulama, kalau kamu sekalian tidak mengetahui." (An-Nahl: 43)

2. Menyambut puasa dengan hura-hura, bukan dengan banyak berdzikir, beristigfar dan mensyukuri nikmat Allah. Klimaksnya, bulan yang penuh berkah ini tidaklah menggiring mereka untuk semakin bertakwa; tapi sebaliknya, semakin terbuai seribu satu kemaksiatan.

3. Sebagian kaum Muslimin, memasuki bulan Ramadhan dengan gambaran lahir seperti orang-orang yang bertaubat. Mereka shalat, berpuasa dan meninggalkan banyak kemaksiatan yang biasa dilakukan. Namun seusai bulan puasa, mereka kembali menjadi pecinta kemaksiatan. Seolah- olah, mereka hanya mengenal Allah di bulan nan suci ini. Atau mungkin mereka hanya memandang ibadah di bulan ini sebagai satu tradisi.

Nabi bersabda:
"Barangsiapa yang beribadah hanya untuk didengar orang, maka Allah pun akan memberi ganjaran dengan sekedar (ibadah itu) didengar orang. Barangsiapa yang beribadah untuk sekedar dilihat orang, demikian juga Allah akan memberinya ganjaran." (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Ada juga sebagian kaum Muslimin yang beranggapan bahwa bulan Ramadhan ini cocok dijadikan waktu untuk beristirahat, tidur-tiduran dan bermalas-malasan di siang hari, lalu begadang di malam hari. Bahkan seringkali, begadang malam itu dibumbui dengan hal-hal yang dapat mengundang kemurkaan Allah. Dengan permainan, mengobrol kesana kemari, berghibah, bahkan kadang berjudi, wal 'iyadzu billah.

5. Selain itu, ada juga kaum Muslimin yang menyambut bulan ini dengan dingin dan tak bergairah. Kalau sudah berlalu, ia akan kegirangan. Mereka beribadah dan berpuasa, semata-mata mengikuti kebiasaan manusia di sekitarnya. Alangkah miripnya mereka dengan keadaan orang-orang munafik yang memang senang bermalas-malasan dalam ibadah.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang muna_k itu (berusaha) menipu Allah, tetapi Allah-lah yang akhirnya menipu mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat mereka berdiri dengan malas...." (An-Nisa: 142)

Rasulullah juga bersabda, yang artinya:
"Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang muna_k adalah shalat Isya dan Shubuh." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

6. Banyak di antara mereka yang begadang malam untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, sampai-sampai meninggalkan subuh berjama'ah. Padahal Rasulullah bersabda: "Tidak dibolehkah begadang itu melainkan bagi orang yang shalat (malam), atau musafir." (HR Imam Ahmad)

7. Sebagian di antara mereka menghindari diri dari berbagai pembatal puasa; seperti makan, minum, berjima' dan lain-lain. Tetapi mereka tak berusaha menghindari hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa; seperti bebas melihat aurat wanita di jalan-jalan (bahkan terkadang menjadi kebiasaan sehabis shubuh dan menjelang berbuka), atau di majalah-majalah, berghibah, mencaci-maki orang dan lain sebagainya.

8. Suka berdusta Ada sebagian kaum Muslimin yang menganggap ringan berkata dusta, termasuk di bulan suci Ramadhan, di kala berpuasa. Padahal Rasulullah pernah bersabda: "Barangsiapa yang tidak juga meninggalkan berkata-kata dusta dan masih juga melakukannya (di kala berpuasa), maka Allah tak sedikitpun sudi menerima ibadah puasanya, meski ia meninggalkan makan dan minum." (HR. AI-Bukhari)

9. Satu hal yang aneh, namun benar-benar sering terjadi; seseorang berpuasa, tapi tidak shalat. Atau terkadang ada yang rajin shalat, tapi selalu beralasan tidak kuat berpuasa. Padahal sungguh tidak ada manfaat orang itu berpuasa kalau dia tidak shalat. Karena shalat adalah pilar dien/agama Islam.

10. Ada juga sebagian kaum elit di kalangam Muslimin yang sengaja bersafar terkadang keluar negeri agar mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Padahal Allah Maha Mengetahui apa yang terbetik dalam hati hamba-Nya.

11. Sebagian kaum Muslimin, ada yang berbuka puasa dengan mengkonsumsi sesuatu yang haram. Terkadang minuman keras, rokok (itu banyak terjadi), serta makanan dan minuman yang didapat dan usaha yang haram. Selain itu, beliau juga menyebutkan beberapa hal lain yang layak diperhatikan. Dan juga masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan sebagian kaum Muslimin dalam melakukan ibadah puasa.

Terkadang, bahkan merusak bingkai kerja dari puasa itu sendiri; yaitu menahan diri dan makan dan minum. Bentuknya? Dengan mengumbar nafsu makan dan minum tatkala berbuka puasa. Ibnu Taimiyyah mengungkapkan penafsiran yang bagus tentang hadits nabi :

"Sesungguhnya setan itu mengalir dalam tubuh manusia mengikuti aliran darah." (Diriwayatkan oleh Ahmad)

4. Manfaat-Manfaat Ibadah Puasa
Syaikh Ali Hasan dalam "kitabu Ash-Shiyam" menuturkan beberapa faedah puasa berdasarkan keterangan dari beberapa hadits. Akan kami sebutkan di sini dengan ringkas:

4.1 Puasa itu adalah perisai
Bagi mereka yang masih diamuk jiwa muda dan syahwat membara, namun masih belum terbuka pintu menuju pelaminan; disyari'atkan baginya untuk mengekang keinginan syahwatnya itu dengan berpuasa.

Rasulullah bersabda, yang artinya:
"Wahai pemuda-pemudi, barangsiapa di antara kamu yang sudah memiliki kemampuan seksualitas, hendaknya ia menikah. Karena menikah itu lebih dapat memelihara pandangan dan kemaluan. Kalau ia belum mampu menikah, hendaknya ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah obat penawar gejolak syahwat."

Lebih khusus lagi  Rasulullah juga bersabda yang artinya: "Puasa itu ibarat perisai, ia akan menamengi seorang samba dari siksa neraka." ((Diriwayatkan oleh Ahmad)

Nah khusus di bulan Ramadhan, sebulan penuh seorang Muslim akan diasah jiwanya dengan puasa sehingga bisa terbentengi dari sergapan setan yang selalu memperalat hawa nafsu untuk menjungkirkan seorang hamba ke jurang neraka. Tentu saja hal itu utama bagi mereka yang berkeinginan dengan puasanya untuk mencapai ketakwaan kepada Allah.

4.2. Puasa adalah jalan menuju Jannah
Dari Umamah berkata: "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah aku satu amalan yang akan menggiringku menuju Jannah." Beliau bersabda: "Lakukan puasa, tak ada amalan yang setara dengannya."

4.3. Puasa dapat menjadi perantara turunnya syafa’at
Rasulullah bersabda, yang artinya:
"Puasa dan al-Qur'an akan memberi syafat kepada seorang hamba di hari kiamat nanti. Sang puasa berkata: "Ya Allah, aku telah menghalanginya makan dan mengumbar nafsu, jadikanlah aku perantara untuk menyampaikan syafa'at-Mu kepadanya”. (Diriwayatkan oleh Ahmad)

4.4. Dua saat kebahagiaan bagi orang yang berpuasa
Nabi bersabda:
"Orang yang berpuasa memiliki dua saat-saat penuh kebahagiaan: kala ia berbuka, dan, di saat ia menjumpai Rabb-nya (selepas hidup di dunia). (Diriwayatkan oleh Bukhari)

4.5. Pintu Rayyan di Jannah (surga), bagi kaum yang berpuasa
Dari Sahal bin Sa'ad, dari Nabi bahwasanya beliau bersabda, yang artinya:
"Sesungguhnya di Jannah kelak, ada pintu yang bernama Rayyan. Dari situlah kaum yang berpuasa akan masuk Jannah di hari kiamat. Tak seorangpun kecuali mereka yang akan memasukinya. Bila orang terakhir di antara mereka telah masuk, pintu segera ditutup; dan barangsiapa (diantara yang masuk) meminum sedikit airnya, niscaya ia tak akan dahaga selamanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah-lah Pencipta segala kebahagiaan, kepada-Nyalah' kembali akhir kehidupan. Selayaknya kita menyambut bulan yang penuh berkah dengan penuh gairah dan kegembiraan. Di sanalah, dan dari sanalah kita akan beranjak dengan taufik Sang Maha Rahman menuju Jannah-Nya yang penuh kebahagiaan.

Sebelumnya: Agar Ibadah Puasa Lebih Bermakna

Baca Juga:
Dosa Yang Berulang 
KATA-KATA MUTIARA ISLAMI