Pada saat hati sudah mulai mantap akan dirinya dan tanggal juga sudah mulai ditetapkan. Tiba waktunya untuk mengurus tetek bengek pernikahan.
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Senin, 05 Oktober 2020
Minggu, 18 Desember 2016
AYAH, Dengarkanlah...!!! (Bagian Dua)
Disamping memperhatikan pekembangan
fisik anak, kita juga harus memperhatikan pendidikan akal dan hati mereka. Kita
harus memikirkan nasib mereka setelah matinya.
Langkah pertama untuk itu adalah kita
perbaiki terlebih dahulu diri kita, karena dengan baiknya diri kita maka mereka
akan ada di atas keteguhan dan kekokohan serta ada di dalam penjagaan Allah
swt. Allah berfirman: Ayah mereka berdua adalah orang yang shalih (Al-Kahfi: 82)
Kedua, kita jadikan bimbingan dan
pengajaran Islam sebagai tujuan. Tidak ada halangan untuk belajar dan
mempelajari ilmu-ilmu dunia akan tetapi tidak sebesar perhatiannya terhadap
akhirat. Allah berfirman: Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan nasib
(bagian)mu dari (keni'matan) dunia. (Al-Qashash: 77)
Wahai Ayah! Maka takutlah engkau kepada
Allah pada apa yang menjadi tanggunganmu karena engkau akan diminta
pertanggujawabannya di hadapan Allah. Takutlah engkau kepada Allah bahwasanya
Allah telah memberikan anak sebagai amanat kepadamu tapi engkau justru
membukakan pintu-pintu kejelekan bagi mereka. Allah mengamanatimu tapi engkau
malah menyibukkan mereka dengan film-film, sinetron-sinetron,
perangkat-perangkat kekejian, majalah-majalah porno dan semisal dengan itu.
Jika demikian adanya berarti engkau telah mengkhianati amanat yang dipikulkan
kepadamu dan engkau telah menipu mereka yang menjadi tanggunganmu. Nabi saw
bersabda: Tidaklah seseorang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya
(tanggungannya) kemudian dia mati dalam keadaan menipu mereka, melainkan Allah
haramkan baginya surga. (Bukhari Muslim)
Ayah….! Jika engkau memang sayang pada
buah hatimu, tidak ingin menipu mereka dan juga tidak ingin mengkhianati amanat
yang dipikulkan di pundakmu, maka kemarilah! Kemarilah untuk sama-sama menyimak
wasiat Luqman kepada anaknya. Wasiat seorang ayah yang yang sangat menyayangi
anaknya dan menebusnya dengan sangat mahal dan berharga. Tahukan engkau apakah
dia mewasiatinya dengan dunia? Apakah dia mewasiatinya dengan intan permata dan
segala perhiasan kemewahan lainnya? Tidak, bahkan dia mewasiati anaknya dengan
apa yang akan menjadikannya ada dalam kehidupan yang baik. Kehidupan yang akan
menyelamatkannya dari adzab Allah yang pedih. Sungguh Allah telah
mengabadikannya dalam Al-Qur'an. Pernahkah engkau mendapatinya? Tahukah engkau
apakah wasiatnya itu?
Adalah Luqman Al-Hakim dengan kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya, dia berwasiat agar jangan berbuat syirik, yakni menyekutukan Allah swt. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, waktu dia memberikan nasihat kepadanya: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah sebesar-besar kezhaliman. (Luqman: 13)
Adalah Luqman Al-Hakim dengan kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya, dia berwasiat agar jangan berbuat syirik, yakni menyekutukan Allah swt. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, waktu dia memberikan nasihat kepadanya: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah sebesar-besar kezhaliman. (Luqman: 13)
Ya… adakah kezhaliman yang lebih besar dari syirik? Itulah apa yang dikhawatirkan Luqman pada anaknya sehingga mewasiati agar jangan sampai terjatuh ke dalamnya. Adakah engkau pernah menyampaikan ini pada anakmu?
Baca juga: Ayah, dengarkanlah...!!! (Bagian Pertama)
Kemudian, beliau dengan segenap kasih
sayangnya menunjukkan pada anaknya apa yang akan menyelamatkan anaknya dari
adzab Allah yaitu dengan menghadap kepada-Nya melalui shalat, memerintahkan
yang ma'ruf serta mencegah dari yang munkar. Adakah engkau demikian wahai ayah?
Saya berharap engkau sudah memenuhi semuanya sehingga hanya tinggal
menyampaikannya kepada anakmu. Karena jika tenyata engkaupun belum demikian, maka
ini adalah mushibah dari sebenar-benar mushibah, dan kita berlindung darinya.
Setelah itu, Luqman mewasiati anaknya
agar berhias dengan akhlaq yang mulia yang akan mengangkat jiwanya dan akan
tinggi derajatnya. Janganlah sombong dan menghina sesama. Sederhanalah dalam
berjalan dan lunakkanlah suara dalam pembicaraan. Sesungguhnya seburuk-buruk
suara ialah suara keledai. (Luqman: 19)
Inilah wahai Ayah, sejumlah wasiat dari
ayah yang begitu sangat menyayangi dan mendambakan kebahagian bagi si buah
hati. Pernahkah engkau menyampaikannya pada anakmu, sebagiannya atau bahkan
seluruhnya..?!
Ada fenomena yang sangat kita sesali
dan kita keluhkan semuanya kepada Allah, yakni sebagian ayah berusaha
mematahkan semangat anaknya dan menghalangi kesungguhannya ketika melihat bahwa
Allah telah memberikan hidayah kepadanya untuk mendalami dan mengamalkan ilmu
agama. Bahkan diantara mereka ada yang sampai menghasut dan menakut-nakuti
serta menebar was-was. Mereka mengatakan bahwa belajar agama hanya akan
mengikat kebebasan jiwa. Mereka juga mencela dan juga memperolok-oloknya,
sehingga tidak tahu lagi apakah yang dicela itu adalah orangnya atau agama yang
dibawanya. Ketika didapati anaknya memanjangkan janggut maka dikatakan seperti
kambing. Ketika anaknya berusaha mengenakan pakaian di atas mata kaki maka
dikatakan takut cacing dan lain sebagainya. Maka apakah ini perlakuannmu
terhadap apa yang menjadi amanatmu? Apakah ini yang engkau nasihatkan kepada
mereka?
Takutlah engkau kepada Allah! Takutlah
bahwasanya Allah sentiasa mengawasi bagaimana engkau mendidik mereka. Ajarilah
mereka apa yang bermanfaat baginya dari urusan agama dan dunianya. Dan tiadalah
kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh
kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah
kamu memahaminya! (Al-An'am:32)
Ayah….! Engkau telah menyiapkan anakmu
untuk menghadapi ujian dunia. Maka takutlah kepada Allah dan ketahuilah olehmu
serta beritahukanlah kepada anak-anakmu bahwa barang dagangan Allah (surga)
jauh lebih berharga dan lebih mahal dari perhiasan dunia. Dan ajarkanlah serta
beritahukanlah mereka bahwa kesuksesan yang hakiki ada pada membatasi diri pada
apa yang Allah ridlai. Beritahukanlah kepada mereka dan ketahui olehmu juga
bahwa kebahagiaan yang hakiki ada pada taqwa dan ta'at kepada Allah.
Serta ketahuilah olehmu bahwa kaki
seorang hamba tidak akan bergeser sejengkalpun dari posisinya pada hari kiamat
dan akan diadukan kezhalimannya oleh orang yang pernah dizhaliminya. Anak akan
senang bisa mendapatkan ayahnya untuk mengadukan kezhaliman yang pernah
dilakukannya, demikian juga istrinya. Pada hari kiamat nanti anak-anak akan
membantah dan menyalahkan ayah-ayah mereka dengan berkata: Wahai Rabb kami,
ambil lah hak kami pada ayah kami yang zhalim ini. Dia telah menyebabkan kami
tidak melakukan apa yang Engkau ridhai. Dialah yang telah mendidik kami tidak
ubahnya binatang ternak. Dialah yang mendatangkan berbagai hal yang
membinasakan dan tidaklah ada satu kerusakan melainkan didatangkannya ke
hadapan kami. Maka apakah yang nanti akan engkau katakan untuk menjawab
semuanya itu wahai Ayah yang penyayang, yang begitu sayangnya sehingga menjerumuskan
anaknya pada kebinasaan? Bahkan pada akhirnya nanti sama-sama ada dalam
kebinasaan.
Yaitu pada hari dimana tidak bermanfaat
lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati
yang bersih. (Asy-Syu'araa': 88-89)
Maka di manakah hartamu? Di manakah
anak yang engkau banggakan itu? Mereka justru menyalahkanmu dan menyeretmu
untuk ikut merasakan panas neraka karena engkaulah yang punya andil besar untuk
itu.
Kita berlindung kepada Allah dari semua
itu dan memohon agar Allah menunjukkan kita kepada kebaikan dan memberikan
kekuatan dan kemudahan untuk menempuhnya serta dimatikan di atasnya, serta kita
memohon kepada-Nya agar menyelamatkan kita, keluarga serta anak keturunan kita
dari adzab-Nya yang pedih. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
Terakhir wahai Ayah! Bertaqwalah engkau
kepada Allah. Takutlah Engkau kepada-Nya pada apa yang engkau lakukan untuk
anakmu. Perbaikilah pendidikan mereka! Jagalah mereka dari segala kerusakan dan
kealpaan dalam segala kebaikan. Lakukanlah sejak sekarang selama mereka masih
ada dihadapan kalian. Selama kalian masih bisa bersungguh-sungguh mengusahakan.
Lakukanlah segera sebelum kalian hanya bisa melakukan celaan dan penyesalan
yaitu pada hari dimana tidak akan bermanfaat lagi celaan dan penyesalan. Dan
Allah lah tempat kita meminta perlidungan dan pertolongan.
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu
hanyalah cobaan (bagimu); disisi Allah lah pahala yang besar. (At-Thagaabun:
15)
Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak
pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6)
Sebelumnya: AYAH, Dengarkanlah...!!! (Bagian Pertama)
Terkait: JANJI ALLAH BAGI ORANG YANG AKAN MENIKAH
Sebelumnya: AYAH, Dengarkanlah...!!! (Bagian Pertama)
Terkait: JANJI ALLAH BAGI ORANG YANG AKAN MENIKAH
AYAH, Dengarkanlah...!!! (Bagian Pertama)
Dengarkanlah!
Di antara hal yang tidak diragukan lagi karena
memang terjadi adalah bahwa setiap ayah mendambakan anak sebagai buah hati bisa
sukses dan berhasil dalam pendidikan dan sekolahnya serta kehidupannya.
Karenanya, ayah senantiasa berdo'a kepada Allah agar memberikan kemudahan dan
keteguhan bagi anak tercinta. Ayah menjanjikan hadiah dan mengabulkan keinginan
si buah hati jika lulus dalam ujian dan memberikan ancaman serta marah jika
sampai gagal dalam ujian. Perasaan seperti ini memang merupakan fitrah manusia
dan memang terjadi di antara kita.
Akan tetapi wahai Ayah yang penyayang, apakah
perhatianmu kepada si buah hati berupa perhatian penuh terhadap sekolah,
pendidikan, masa depan dan urusan dunianya itu karena memang engkau sadar itu
adalah kewajibanmu, sama seperti perhatianmu terhadap akhirat mereka? Apakah
engkau benar-benar memikirkan dan mengkhawatirkan nasib mereka setelah mati
seperti halnya perhatianmu akan kenyamanan dan kebahagiaan hidup mereka sewaktu
di dunia? Inilah tanggung jawabmu wahai Ayah. Engkau curahkan semuanya untuk
dunia yang fana, sementara engkau abaikan akhirat yang kekal selamanya. Engkau
sibuk memikirkan kehidupan mereka tapi engkau lupakan keadaan setelah matinya.
Engkau bangun bagi mereka rumah dari tanah, batu dan bata di dunia, tapi engkau
haramkan mereka untuk mendapatkan rumah di akhirat yang indah bertatahkan intan
permata.
Itulah keinginanmu! Itulah angan-anganmu! Semuanya
tidak lebih dari agar anak-anakmu bisa jadi dokter, insinyur, pilot ataupun tentara.
Ya Allah! Semuanya itu hanya cita-cita dunia…..! Engkau berusaha, bekerja
membanting tulang dan bersungguh-sungguh hanya untuk dunianya… Mana usahamu
untuk akhiratnya wahai Ayah……? Fenomena ini bukanlah sesuatu yang jarang
terjadi, bahkan mayoritas manusia demikian adanya. Mereka begitu serius
berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendidikan fisik anak-anaknya.
Tetapi mereka menelantarkan pendidikan hatinya yang padahal dengannyalah
anak-anaknya bisa hidup dan bahagia atau sebaliknya binasa dan sengsara. Inilah
kenyataan!
Ayah! Mungkin engkau mengira bahwa ini hanyalah
perkataan yang tiada beralasan. Tapi jika engkau ingin bukti maka simaklah
wahai Ayah yang penyayang!
Bayangkan atau anggap anakmu terlambat mengikuti
ujian di sekolahnya. Apakah yang engkau rasakan wahai Ayah? Bukankah engkau
akan berlomba dengan waktu mengantarkan anakmu agar bisa mengikuti ujian
meskipun terlambat? Bahkan sebelumnya, bukankah engkau akan rela untuk tidur
setengah mata agar bisa membangunkan si buah hati supaya tidak terlambat?
Bukankah engkau akan melakukan segalanya agar anak tercinta yang menjadi
kebanggaanmu bisa ikut ujian tepat waktu? Saya yakin jawabannya adalah Ya.
Bukankah engkau melakukan semua itu wahai Ayah? Akuilah!!
Sekarang, apakah perasaanmu itu sama atau akan
muncul juga ketika anakmu terlambat shalat Shubuh? Apakah engkau akan berusaha
agar anakmu shalat Shubuh tepat waktu? Saya hanya berprasangka baik bahwa
engkau memang shalat Shubuh tepat waktu. Karena jika tidak, bagaimana mungkin engkau
akan membangunkan anak-anakmu sementara engkau sendiri terlambat untuk itu? Kemudian,
bukankah engkau setiap hari senantiasa bertanya kepada anakmu tentang
sekolahnya? Apa yang dipelajari, apa yang dilakukan, jawaban apa yang diberikan
ketika ujian dan berharap jawaban itu benar? Tetapi, apakah setiap hari engkau
bertanya juga tentang urusan agamanya? Apakah engkau bertanya sudahkah dia
shalat? Dengan siapa dia duduk dan bergaul? Tidakkah engkau bertanya apa yang
dia lakukan ketika tidak di rumah, ta'at atau maksiat?
Ayah, bukankah dadamu terasa sesak ketika tahu bahwa
si buah hati salah dalam menjawab ujian? Bukankah engkau merasa terhimpit
ketika tahu bahwa nilainya jauh di bawah sempurna bahkan rata-rata? Bukankah
engkau merasa terpukul ketika tahu bahwa dia gagal dalam ujiannya? Akan tetapi,
apakah dadamu juga terasa sesak, dadamu juga terasa terhimpit ketika tahu bahwa
anakmu sangat minim dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya terlebih
sunah-sunahnya? Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa engkau lebih dan hanya
memperhatikan dunianya dan mengabaikan akhiratnya?
Ayah, engkau mengira apabila anakmu tidak lulus
ujian berarti kandas sudah cita-cita dan harapan yang ada. Engkau menyangka
bahwa dalam hal itu tidak ada kesempata kedua terlebih ketiga. Ketahuilah wahai
Ayah…, bahwa kegagalan yang hakiki…, kegagalan yang memang tidak ada lagi
kesempatan kedua atau ketiga untuk memperbaiki, adalah masuknya mereka ke dalam
neraka dengan api yang panas menyala-nyala. Tahukah engkau bahwa kegagalan yang
hakiki adalah penyesalan dan kerugian yang disertai adzab yang pedih lagi
menghinakan? Setelah ini akankah engkau masih beralasan bahwa kita sekarang
hidup di dunia sehinga harus fokus memikirkannya? Kalau begitu kapankah engkau
akan fokus memikirkan akhirat padahal di akhirat nanti tidak ada lagi amalan
yang ada hanyalah pembalasan?
Sungguh wahai Ayah jikalau demikian adanya kita berlindung
kepada Allah darinya maka tidaklah bermanfaat kesuksesan yang diraih di dunia.
Tidaklah bermanfaat ijazah, harta, istana yang megah, kedudukan dan kekuasaan
kalau ternyata catatan amal perbuatan diberikan dari arah kirinya. Kemudian
mereka akan berteriak:
Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-sekali tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaannku dariku. (Al-Haqqah: 25-29)
Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-sekali tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaannku dariku. (Al-Haqqah: 25-29)
Ah…sungguh tidak bermanfaat kekuasaanku, ilmu
duniaku, serta ijazahku. Semuanya telah hilang, semuanya lenyap… yang ada
hanyalah kerugian dan kegagalan.
Tahukah engkau apakah kerugian itu? Tahukah engkau
apakah kegagalan itu? Ya, di dunia kerugian dan kegagalan itu adalah jika
anakmu tidak bisa menjadi dokter, atau insinyur atau pilot dan guru. Akan
tetapi di akherat, yang ada hanyalah kebahagiaan atau kesengsaraan. Yang satu
berarti surga yang lainnya berarti neraka. Akankah engkau rela membiarkan
mereka mengalami kerugian dan kegagalan dalam arti kesengsaraan di dalam neraka?
Saya tidak katakan tinggalkan anak-anakmu! Saya
tidak katakan biarkan mereka jangan diajari masalah dunia! Tidak, demi Allah,
saya tidak katakan demikian. Saya hanya katakan bahwa akherat lebih utama dan
ditekankan untuk diperhatikan, lebih serius untuk diusahakan dan lebih
bersunguh-sungguh untuk beramal meraih kebahagiaannya.
Wahai Ayah…! Siapakah di antaramu yang begitu bersemangat bersungguh-sungguh mendatangkan seorang pendidik untuk mengajarkan kepada anaknya Al-Qur'an dan menerangkan As-Sunnah? Sungguh sedikit sekali yang telah berbuat demikian. Alangkah baik kiranya kalau mereka tidak memfasilitasi anak-anaknya dengan sarana kerusakan. Akan tetapi kita lihat justru mereka dengan jeleknya pemikiran dan kurangnya perhitungan malah mendatangkan kejelekan bagi anak-anaknya dengan memfasilitasi dengan kendaraan-kendaraan, sopir pribadi, pembantu (pelayan) serta memenuhi rumahnya dengan barang-barang dan hal-hal yang diharamkan yang melalaikan dari dzikrullah dan ta'at kepada-Nya.
Wahai Ayah…! Siapakah di antaramu yang begitu bersemangat bersungguh-sungguh mendatangkan seorang pendidik untuk mengajarkan kepada anaknya Al-Qur'an dan menerangkan As-Sunnah? Sungguh sedikit sekali yang telah berbuat demikian. Alangkah baik kiranya kalau mereka tidak memfasilitasi anak-anaknya dengan sarana kerusakan. Akan tetapi kita lihat justru mereka dengan jeleknya pemikiran dan kurangnya perhitungan malah mendatangkan kejelekan bagi anak-anaknya dengan memfasilitasi dengan kendaraan-kendaraan, sopir pribadi, pembantu (pelayan) serta memenuhi rumahnya dengan barang-barang dan hal-hal yang diharamkan yang melalaikan dari dzikrullah dan ta'at kepada-Nya.
Siapakah di antara kalian wahai Ayah yang memberikan
hadiah pada anaknya apabila hafal satu juz dari Al-Qur'anul Karim atau beberapa
hadits dari hadits Nabi saw? Sungguh sangat sedikit sekali yang demikian ini.
Kita mohon kepada Allah agar memberkahi yang sedikit ini. Kita lihat sebagian
manusia, mereka menjanjikan pada anaknya apabila lulus ujian akan diajak pesiar
menyusuri pantai yang indah atau wisata ke mancanegara, apakah Eropa atau
Amerika, serta mereka menjanjikan dibelikan mobil agar bebas mengukur jalan.
Namun adakah di antara meraka yang menjanjikannya untuk diajak umrah atau haji
dan mengunjungi masjid Nabi saw?
Setelah semua itu, tahukah engkau wahai Ayah
apakah buah dari hasil pendidikan seperti itu? Tahukah engkau apakah hasil dari
pendidikan yang mengabaikan masalah akhirat tersebut? Hasilnya adalah Al-Qur'an
berganti menjadi majalah, siwak berganti menjadi rokok dan lebih parah lagi
mereka akan hidup tidak ubahnya binatang ternak. Tahukah engkau apa di antara
yang membedakan kita dari binatang ternak? Kita diberikan fasilitas untuk
mengerti bahwa dunia hanyalah sementara. Kita mengetahui bahwa ada kehidupan
yang kekal selamanya. Maka selayaknyalah kita untuk berusaha menggapai
kebahagiaan di sana. Tetapi apabila tidak demikian maka tidaklah beda dengan
binatang bahkan lebih sesat karena kita diberi fasilitas sedangkan mereka
tidak. Mereka seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Meraka itulah
orang-orang yang lalai. (Al-A'raf: 179)
Langganan:
Postingan (Atom)
