Senin, 09 Januari 2017

KATA-KATA MUTIARA ISLAMI 1


Sebagian salaf berkata:"Betapa banyak amalan kecil mrnjadi besar (pahalanya) dikarenakan niat, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil dikarenakan niat."


Fidhail bin ‘Iyadh berkata: ”Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik dan Ikhlash adalah Allah menyelamatkanmu dari kedua hal itu.”

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat (hafalan hadits), akan tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, syaratnya ittiba’ (meneladani Nabi), dan menjauhi hawa nafsu dan bid’ah.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ”Alim Rabbani adalah yang mengajari manusia ilmu (masalah) yang kecil sebelum mengajari masalah yang besar.”

Ibnul Atsir rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya syahwat yang tersembunyi adalah keinginan agar amalanya dilihat oleh manusia.”

Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata:”Tidak bertaqwa kepada Allah siapa yang menyukai ketenaran.”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: ”Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak (untuk berfikir) pada keinginannya, apabila keinginannya karena Allah maka dia mengerjakannya dan apabila karena selainnya maka dia mengurungkannya.”

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: ”Segala sesuatu yang ada di dalam al-Qur’an berupa pujian terhadap seorang hamba maka itu adalah buah dari ilmu, dan segala sesuatu yang ada di dalam al-Qur’an berupa celaan maka itu buah dari kebodohan.”

Mujahid rahimahullah berkata: ”Barang siapa mengagung-agungkan nafsunya dia telah menghinakan agamanya, dan siapa yang menundukkan nafusnya dia telah memuliakan agamanya.”

Salah sorang salaf berkata: ”Sesungguhnya ilmu adalah karunia yang Allah berikan kepada siapa yang dicintai dari hambanya, dia tidak didapatkan karena keturunan (nasab), seandainya dia didapatkan karena keturunan maka manusia yang paling pantas mendapatkannya adalah keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata: ”Demi Allah seandainya aku mengetahui kalau meminum air dingin bisa merusak nama baikku, maka aku tidak akan meminum kecuali air panas.”

Imam Syafi’i berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal: “Bagaimana engkau mengetahui para pendusta?”Beliau menjawab:”Dari janji-janji mereka.”

Al-Haram bin Hayyaan berkata: ”Tidaklah seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, melainkan Allah akan menghadapkan hati-hati orang yang beriman kepadanya sampai Allah memberikan rizki kepadanya berupa kecintaan mereka kepadanya (kepada hamba tersebut)”

Diriwayatkan bahwa Umar Radhiyallahu 'Anhu berkata: “Ada tiga yang bisa merusak manusia: para pemimpin yang menyesatkan, debatnya seorang munafik menggunakan Alqur’an (sedangkan Alqur’an adalah haq) dan kesalahan seorang alim”

Imam Syafi’i Rahimahullah pernah berkata: “Tidaklah ilmu itu menjadi indah dan baik kecuali dengan tiga perkara: taqwa kepada Allah, mengamalkan Sunnah dan khosyyah (takut kepada Allah)”

Imam Tsauri Rahimahullah pernah berkata : “Seorang alim adalah dokternya umat ini sedangkan harta adalah penyakitnya. Apabila seorang dokter mengambil penyakit untuk dirinya lalu bagaimanakah ia mengobati orang lain?”

Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah pernah berkata: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang alim yang tawadhu’ dan membenci seorang alim yang sombong”

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Penyakit-penyakit hanyalah dijadikan sebagai pemberi pelajaran bagi hamba, tidak semua orang yang sakit itu meninggal”

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Tanda kebahagiaan adalah keyakinan di hati, wara’ dan zuhud dari dunia, malu dan berilmu”

Abu Darda radhiyallahu 'anhu berkata: “Orang yang mengatakan kebenaran dan mengamalkannya tidak lebih utama dari orang yang mendengarkan kebenaran lalu menerimanya”

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Hakikat akhlaq yang baik adalah mencurahkan segala kebaikan dan menjaga diri dari segala keburukan dan wajah yang berseri”

Luqman al-Hakim berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, rendah dirilah terhadap kebenaran, niscaya kamu menjadi orang yang paling berakal”

Diriwayatkan bahwa Dzun Nun al-Mishri rahimahullah berkata: “Laparlah kamu di siang hari dan bangunlah di menjelang fajar, niscaya kamu melihat keajaiban dari Sang Maha Raja lagi Maha Kuasa”

Al.Mubarrid rahimahullah pernah berkata: “Barangsiapa yang memanjangkan ceramahnya dan melamakan perkataannya sungguh dia bisa membuat kebosanan dan membuat perkumpulan menjadi tidak baik”

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Berdebat dalam masalah agama membuat hati keras dan melahirkan kebencian”

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Selagi anda mempunyai hati yang selalu merasa cukup, maka anda dan raja dunia adalah sama”

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Orang kaya yang sebenarnya adalah yang kaya dengan keadaannya, bukanlah orang kaya itu karena kekayaan dan hartanya”

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Sesungguhnya ahli fiqih adalah yang ahli dalam perbuatannya dan bukanlah ahli fiqih yang ahli dengan perkataan dan penjelasannya saja”
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata: “Amalan yang paling berat ada pada tiga:
menderma dari yang sedikit, wara’ pada waktu menyendiri dan berkata yang benar kepada orang yang diharapkan dan ditakuti”

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata: “Ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, bukanlah ilmu yang hanya dihafal”

Muhammad ibn Ali ibn Husain pernah berkata: “Sungguh mengherankan bagi orang yang angkuh dan membanggakan dirinya, yang dimana ia diciptakan dari setetes mani kemudian ia menjadi mayat yang busuk dan setelah itu dia tidak tahu akan diapakan dia”

Ibnu al-Qoyyim rahimahullah berkata: “Amalan tanpa adanya ikhlas dan tanpa mengikuti Rasul seperti seorang musafir yang mengisi kantongnya dengan pasir, memberatkannya namun tidak bermanfaat baginya”

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang perkataannya tidak mengandung hikmah maka itu adalah main-main, barangsiapa yang diamnya bukan tafakkur maka itu adalah kelalaian dan barangsiapa yang pandangannya bukan untuk mencari ibrah maka itu adalah kesia-siaan”

Ibnu Atsir rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang kebiasaan dan tabi’atnya mengingkari nikmat dari manusia dan tidak berterima kasih kepada mereka, maka menjadi kebiasaannya pula kufur terhadap nikmat Allah dan tidak bersyukur kepadaNya”

Salman al-Farisi radiyallahu 'anhu berkata: “Ingatlah Allah pada setiap waktu dimana keinginanmu muncul, pada waktu tanganmu melakukan sumpah dan juga pada waktu kamu memutuskan satu hukum”

Luqman al-Hakim berkata: “Barangsiapa menyayangi, dia akan disayangi. Barangsiapa mendengarkan baik-baik, dia akan faham. Barangsiapa diam, dia akan selamat. Barangsiapa memperbanyak kebaikan, dia akan beruntung. Barangiapa mendzalimi orang, dia berdosa. Barangsiapa menyakiti orang, dia akan menyesal dan barangsiapa mempergauli manusia dengan baik, dia akan bahagia”

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Janganlah sekali-kali kamu mendatangi pintu-pintu para penguasa walaupun kamu memerintahkan mereka kebaikan atau melarang mereka dari keburukan, dan janganlah sekali-kali kamu berduaan dengan wanita walaupun kamu mengajarinya salah satu surat dari Alqur'an, dan janganlah sekali-kali kamu menemani orang yang mendurhakai orang tua, dia tidak akan menerima kamu karena dia kepada kedua orangtuanya saja telah durhaka”.

Imam Syafi’i pernah berkata: “Barangsiapa mempelajari Alqur'an maka tinggilah martabatnya, barangsiapa mempelajari ilmu fiqih maka mulialah kedudukannya, barangsiapa menulis hadits maka kuatlah hujjahnya, barangsiapa mempelajari ilmu hitung maka ariflah sisi pandangnya, barangsiapa mempelajari bahasa maka lembutlah tabiatnya, dan barangsiapa tidak bisa menjaga dirinya maka tidak bermanfaat ilmunya”

Umar ibn Abdul Aziz pernah berkata: “Dada adalah tempat menyimpan rahasia, bibir adalah kuncinya, lisan adalah anak kunci pembukanya, maka hendaklah setiap orang menjaga

Umar radiyallahu 'anhu berkata: “Selalu ingatlah kalian kepada Allah, karena itu adalah obat penyembuh, dan janganlah kalian mengingat manusia, karena itu adalah penyakit”

Ikrimah rahimahullah pernah berkata: “Semua orang itu pasti bergembira dan bersedih, tapi jadikanlah kegembiraan itu sebagai syukur dan kesedihan itu sebagai sabar”

Abu Idris al-Khaulani rahimahullah berkata: “Aku melihat di pojok masjid ada api yang berkobar itu lebih aku sukai daripada aku melihat ada satu bid’ah yang tidak dirubah”

Ali radhiyallahu berkata: ”Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang terkumpul dalam dirinya sifat-sifat berikut; Apabila dia berbicara berdusta kepadamu, apabila engkau memberinya amanah dia mengkhianatimu, apabila dia memberimu amanah dia akan menuduhmu, apabila engkau memberi kebaikan kepadanya dia mengingkari kebaikanmu, dan bila dia memberikan kebaikan kepadamu dia akan mengungkit-ungkitnya.”(al-Adab asy-Syar’iyyah Ibnu Muflih hal 537)

Ar-Rabii’ bin Anas rahimahullah berkata, “Tanda seseorang cinta kepada Allah adalah ‘ia banyak menyebut atau mengingatNya’, sesungguhnya engkau tidak akan mencintai sesuatu melainkan engkau banyak menyebut atau mengingatnya…” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab rahimahullah, hal: 444]

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata: ”Tiga hal yang apabila berada dalam diri seseorang, Allah akan memenuhi hatinya dengan keimanan: Bersahabat dengan orang faqih, membaca al-Qur’an dan berpuasa.”(al-Aadab asy-Syar'iyyah Ibnu Muflih jilid 3 halaman 544)

Lanjut Ke:  
Kata-Kata Mutiara Islami 2
Kata-Kata Mutiara Islami 3 

Minggu, 18 Desember 2016

AYAH, Dengarkanlah...!!! (Bagian Dua)

Disamping memperhatikan pekembangan fisik anak, kita juga harus memperhatikan pendidikan akal dan hati mereka. Kita harus memikirkan nasib mereka setelah matinya.

Langkah pertama untuk itu adalah kita perbaiki terlebih dahulu diri kita, karena dengan baiknya diri kita maka mereka akan ada di atas keteguhan dan kekokohan serta ada di dalam penjagaan Allah swt. Allah berfirman: Ayah mereka berdua adalah orang yang shalih (Al-Kahfi: 82)

Kedua, kita jadikan bimbingan dan pengajaran Islam sebagai tujuan. Tidak ada halangan untuk belajar dan mempelajari ilmu-ilmu dunia akan tetapi tidak sebesar perhatiannya terhadap akhirat. Allah berfirman: Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan nasib (bagian)mu dari (keni'matan) dunia. (Al-Qashash: 77)

Wahai Ayah! Maka takutlah engkau kepada Allah pada apa yang menjadi tanggunganmu karena engkau akan diminta pertanggujawabannya di hadapan Allah. Takutlah engkau kepada Allah bahwasanya Allah telah memberikan anak sebagai amanat kepadamu tapi engkau justru membukakan pintu-pintu kejelekan bagi mereka. Allah mengamanatimu tapi engkau malah menyibukkan mereka dengan film-film, sinetron-sinetron, perangkat-perangkat kekejian, majalah-majalah porno dan semisal dengan itu. Jika demikian adanya berarti engkau telah mengkhianati amanat yang dipikulkan kepadamu dan engkau telah menipu mereka yang menjadi tanggunganmu. Nabi saw bersabda: Tidaklah seseorang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya (tanggungannya) kemudian dia mati dalam keadaan menipu mereka, melainkan Allah haramkan baginya surga. (Bukhari Muslim)

Ayah….! Jika engkau memang sayang pada buah hatimu, tidak ingin menipu mereka dan juga tidak ingin mengkhianati amanat yang dipikulkan di pundakmu, maka kemarilah! Kemarilah untuk sama-sama menyimak wasiat Luqman kepada anaknya. Wasiat seorang ayah yang yang sangat menyayangi anaknya dan menebusnya dengan sangat mahal dan berharga. Tahukan engkau apakah dia mewasiatinya dengan dunia? Apakah dia mewasiatinya dengan intan permata dan segala perhiasan kemewahan lainnya? Tidak, bahkan dia mewasiati anaknya dengan apa yang akan menjadikannya ada dalam kehidupan yang baik. Kehidupan yang akan menyelamatkannya dari adzab Allah yang pedih. Sungguh Allah telah mengabadikannya dalam Al-Qur'an. Pernahkah engkau mendapatinya? Tahukah engkau apakah wasiatnya itu? 

Adalah Luqman Al-Hakim dengan kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya, dia berwasiat agar jangan berbuat syirik, yakni menyekutukan Allah swt. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, waktu dia memberikan nasihat kepadanya: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah sebesar-besar kezhaliman. (Luqman: 13)

Ya… adakah kezhaliman yang lebih besar dari syirik? Itulah apa yang dikhawatirkan Luqman pada anaknya sehingga mewasiati agar jangan sampai terjatuh ke dalamnya. Adakah engkau pernah menyampaikan ini pada anakmu? 

Baca juga: Ayah, dengarkanlah...!!! (Bagian Pertama)

Kemudian, beliau dengan segenap kasih sayangnya menunjukkan pada anaknya apa yang akan menyelamatkan anaknya dari adzab Allah yaitu dengan menghadap kepada-Nya melalui shalat, memerintahkan yang ma'ruf serta mencegah dari yang munkar. Adakah engkau demikian wahai ayah? Saya berharap engkau sudah memenuhi semuanya sehingga hanya tinggal menyampaikannya kepada anakmu. Karena jika tenyata engkaupun belum demikian, maka ini adalah mushibah dari sebenar-benar mushibah, dan kita berlindung darinya.

Setelah itu, Luqman mewasiati anaknya agar berhias dengan akhlaq yang mulia yang akan mengangkat jiwanya dan akan tinggi derajatnya. Janganlah sombong dan menghina sesama. Sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suara dalam pembicaraan. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman: 19)

Inilah wahai Ayah, sejumlah wasiat dari ayah yang begitu sangat menyayangi dan mendambakan kebahagian bagi si buah hati. Pernahkah engkau menyampaikannya pada anakmu, sebagiannya atau bahkan seluruhnya..?!

Ada fenomena yang sangat kita sesali dan kita keluhkan semuanya kepada Allah, yakni sebagian ayah berusaha mematahkan semangat anaknya dan menghalangi kesungguhannya ketika melihat bahwa Allah telah memberikan hidayah kepadanya untuk mendalami dan mengamalkan ilmu agama. Bahkan diantara mereka ada yang sampai menghasut dan menakut-nakuti serta menebar was-was. Mereka mengatakan bahwa belajar agama hanya akan mengikat kebebasan jiwa. Mereka juga mencela dan juga memperolok-oloknya, sehingga tidak tahu lagi apakah yang dicela itu adalah orangnya atau agama yang dibawanya. Ketika didapati anaknya memanjangkan janggut maka dikatakan seperti kambing. Ketika anaknya berusaha mengenakan pakaian di atas mata kaki maka dikatakan takut cacing dan lain sebagainya. Maka apakah ini perlakuannmu terhadap apa yang menjadi amanatmu? Apakah ini yang engkau nasihatkan kepada mereka?

Takutlah engkau kepada Allah! Takutlah bahwasanya Allah sentiasa mengawasi bagaimana engkau mendidik mereka. Ajarilah mereka apa yang bermanfaat baginya dari urusan agama dan dunianya. Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya! (Al-An'am:32)

Ayah….! Engkau telah menyiapkan anakmu untuk menghadapi ujian dunia. Maka takutlah kepada Allah dan ketahuilah olehmu serta beritahukanlah kepada anak-anakmu bahwa barang dagangan Allah (surga) jauh lebih berharga dan lebih mahal dari perhiasan dunia. Dan ajarkanlah serta beritahukanlah mereka bahwa kesuksesan yang hakiki ada pada membatasi diri pada apa yang Allah ridlai. Beritahukanlah kepada mereka dan ketahui olehmu juga bahwa kebahagiaan yang hakiki ada pada taqwa dan ta'at kepada Allah.

Serta ketahuilah olehmu bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser sejengkalpun dari posisinya pada hari kiamat dan akan diadukan kezhalimannya oleh orang yang pernah dizhaliminya. Anak akan senang bisa mendapatkan ayahnya untuk mengadukan kezhaliman yang pernah dilakukannya, demikian juga istrinya. Pada hari kiamat nanti anak-anak akan membantah dan menyalahkan ayah-ayah mereka dengan berkata: Wahai Rabb kami, ambil lah hak kami pada ayah kami yang zhalim ini. Dia telah menyebabkan kami tidak melakukan apa yang Engkau ridhai. Dialah yang telah mendidik kami tidak ubahnya binatang ternak. Dialah yang mendatangkan berbagai hal yang membinasakan dan tidaklah ada satu kerusakan melainkan didatangkannya ke hadapan kami. Maka apakah yang nanti akan engkau katakan untuk menjawab semuanya itu wahai Ayah yang penyayang, yang begitu sayangnya sehingga menjerumuskan anaknya pada kebinasaan? Bahkan pada akhirnya nanti sama-sama ada dalam kebinasaan.

Yaitu pada hari dimana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu'araa': 88-89)

Maka di manakah hartamu? Di manakah anak yang engkau banggakan itu? Mereka justru menyalahkanmu dan menyeretmu untuk ikut merasakan panas neraka karena engkaulah yang punya andil besar untuk itu.

Kita berlindung kepada Allah dari semua itu dan memohon agar Allah menunjukkan kita kepada kebaikan dan memberikan kekuatan dan kemudahan untuk menempuhnya serta dimatikan di atasnya, serta kita memohon kepada-Nya agar menyelamatkan kita, keluarga serta anak keturunan kita dari adzab-Nya yang pedih. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Terakhir wahai Ayah! Bertaqwalah engkau kepada Allah. Takutlah Engkau kepada-Nya pada apa yang engkau lakukan untuk anakmu. Perbaikilah pendidikan mereka! Jagalah mereka dari segala kerusakan dan kealpaan dalam segala kebaikan. Lakukanlah sejak sekarang selama mereka masih ada dihadapan kalian. Selama kalian masih bisa bersungguh-sungguh mengusahakan. Lakukanlah segera sebelum kalian hanya bisa melakukan celaan dan penyesalan yaitu pada hari dimana tidak akan bermanfaat lagi celaan dan penyesalan. Dan Allah lah tempat kita meminta perlidungan dan pertolongan.

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); disisi Allah lah pahala yang besar. (At-Thagaabun: 15)

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6)

Sebelumnya:  AYAH, Dengarkanlah...!!! (Bagian Pertama)
 
Terkait: JANJI ALLAH BAGI ORANG YANG AKAN MENIKAH

AYAH, Dengarkanlah...!!! (Bagian Pertama)


Ayah…,
Dengarkanlah!

Di antara hal yang tidak diragukan lagi karena memang terjadi adalah bahwa setiap ayah mendambakan anak sebagai buah hati bisa sukses dan berhasil dalam pendidikan dan sekolahnya serta kehidupannya. Karenanya, ayah senantiasa berdo'a kepada Allah agar memberikan kemudahan dan keteguhan bagi anak tercinta. Ayah menjanjikan hadiah dan mengabulkan keinginan si buah hati jika lulus dalam ujian dan memberikan ancaman serta marah jika sampai gagal dalam ujian. Perasaan seperti ini memang merupakan fitrah manusia dan memang terjadi di antara kita.

Akan tetapi wahai Ayah yang penyayang, apakah perhatianmu kepada si buah hati berupa perhatian penuh terhadap sekolah, pendidikan, masa depan dan urusan dunianya itu karena memang engkau sadar itu adalah kewajibanmu, sama seperti perhatianmu terhadap akhirat mereka? Apakah engkau benar-benar memikirkan dan mengkhawatirkan nasib mereka setelah mati seperti halnya perhatianmu akan kenyamanan dan kebahagiaan hidup mereka sewaktu di dunia? Inilah tanggung jawabmu wahai Ayah. Engkau curahkan semuanya untuk dunia yang fana, sementara engkau abaikan akhirat yang kekal selamanya. Engkau sibuk memikirkan kehidupan mereka tapi engkau lupakan keadaan setelah matinya. Engkau bangun bagi mereka rumah dari tanah, batu dan bata di dunia, tapi engkau haramkan mereka untuk mendapatkan rumah di akhirat yang indah bertatahkan intan permata.

Itulah keinginanmu! Itulah angan-anganmu! Semuanya tidak lebih dari agar anak-anakmu bisa jadi dokter, insinyur, pilot ataupun tentara. Ya Allah! Semuanya itu hanya cita-cita dunia…..! Engkau berusaha, bekerja membanting tulang dan bersungguh-sungguh hanya untuk dunianya… Mana usahamu untuk akhiratnya wahai Ayah……? Fenomena ini bukanlah sesuatu yang jarang terjadi, bahkan mayoritas manusia demikian adanya. Mereka begitu serius berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendidikan fisik anak-anaknya. Tetapi mereka menelantarkan pendidikan hatinya yang padahal dengannyalah anak-anaknya bisa hidup dan bahagia atau sebaliknya binasa dan sengsara. Inilah kenyataan!

Ayah! Mungkin engkau mengira bahwa ini hanyalah perkataan yang tiada beralasan. Tapi jika engkau ingin bukti maka simaklah wahai Ayah yang penyayang!

Bayangkan atau anggap anakmu terlambat mengikuti ujian di sekolahnya. Apakah yang engkau rasakan wahai Ayah? Bukankah engkau akan berlomba dengan waktu mengantarkan anakmu agar bisa mengikuti ujian meskipun terlambat? Bahkan sebelumnya, bukankah engkau akan rela untuk tidur setengah mata agar bisa membangunkan si buah hati supaya tidak terlambat? Bukankah engkau akan melakukan segalanya agar anak tercinta yang menjadi kebanggaanmu bisa ikut ujian tepat waktu? Saya yakin jawabannya adalah Ya. Bukankah engkau melakukan semua itu wahai Ayah? Akuilah!!

Sekarang, apakah perasaanmu itu sama atau akan muncul juga ketika anakmu terlambat shalat Shubuh? Apakah engkau akan berusaha agar anakmu shalat Shubuh tepat waktu? Saya hanya berprasangka baik bahwa engkau memang shalat Shubuh tepat waktu. Karena jika tidak, bagaimana mungkin engkau akan membangunkan anak-anakmu sementara engkau sendiri terlambat untuk itu? Kemudian, bukankah engkau setiap hari senantiasa bertanya kepada anakmu tentang sekolahnya? Apa yang dipelajari, apa yang dilakukan, jawaban apa yang diberikan ketika ujian dan berharap jawaban itu benar? Tetapi, apakah setiap hari engkau bertanya juga tentang urusan agamanya? Apakah engkau bertanya sudahkah dia shalat? Dengan siapa dia duduk dan bergaul? Tidakkah engkau bertanya apa yang dia lakukan ketika tidak di rumah, ta'at atau maksiat?

Ayah, bukankah dadamu terasa sesak ketika tahu bahwa si buah hati salah dalam menjawab ujian? Bukankah engkau merasa terhimpit ketika tahu bahwa nilainya jauh di bawah sempurna bahkan rata-rata? Bukankah engkau merasa terpukul ketika tahu bahwa dia gagal dalam ujiannya? Akan tetapi, apakah dadamu juga terasa sesak, dadamu juga terasa terhimpit ketika tahu bahwa anakmu sangat minim dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya terlebih sunah-sunahnya? Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa engkau lebih dan hanya memperhatikan dunianya dan mengabaikan akhiratnya?

Ayah, engkau mengira apabila anakmu tidak lulus ujian berarti kandas sudah cita-cita dan harapan yang ada. Engkau menyangka bahwa dalam hal itu tidak ada kesempata kedua terlebih ketiga. Ketahuilah wahai Ayah…, bahwa kegagalan yang hakiki…, kegagalan yang memang tidak ada lagi kesempatan kedua atau ketiga untuk memperbaiki, adalah masuknya mereka ke dalam neraka dengan api yang panas menyala-nyala. Tahukah engkau bahwa kegagalan yang hakiki adalah penyesalan dan kerugian yang disertai adzab yang pedih lagi menghinakan? Setelah ini akankah engkau masih beralasan bahwa kita sekarang hidup di dunia sehinga harus fokus memikirkannya? Kalau begitu kapankah engkau akan fokus memikirkan akhirat padahal di akhirat nanti tidak ada lagi amalan yang ada hanyalah pembalasan?

Sungguh wahai Ayah jikalau demikian adanya kita berlindung kepada Allah darinya maka tidaklah bermanfaat kesuksesan yang diraih di dunia. Tidaklah bermanfaat ijazah, harta, istana yang megah, kedudukan dan kekuasaan kalau ternyata catatan amal perbuatan diberikan dari arah kirinya. Kemudian mereka akan berteriak:
 

Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-sekali tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaannku dariku. (Al-Haqqah: 25-29)

Ah…sungguh tidak bermanfaat kekuasaanku, ilmu duniaku, serta ijazahku. Semuanya telah hilang, semuanya lenyap… yang ada hanyalah kerugian dan kegagalan.

Tahukah engkau apakah kerugian itu? Tahukah engkau apakah kegagalan itu? Ya, di dunia kerugian dan kegagalan itu adalah jika anakmu tidak bisa menjadi dokter, atau insinyur atau pilot dan guru. Akan tetapi di akherat, yang ada hanyalah kebahagiaan atau kesengsaraan. Yang satu berarti surga yang lainnya berarti neraka. Akankah engkau rela membiarkan mereka mengalami kerugian dan kegagalan dalam arti kesengsaraan di dalam neraka?

Saya tidak katakan tinggalkan anak-anakmu! Saya tidak katakan biarkan mereka jangan diajari masalah dunia! Tidak, demi Allah, saya tidak katakan demikian. Saya hanya katakan bahwa akherat lebih utama dan ditekankan untuk diperhatikan, lebih serius untuk diusahakan dan lebih bersunguh-sungguh untuk beramal meraih kebahagiaannya.
 

Wahai Ayah…! Siapakah di antaramu yang begitu bersemangat bersungguh-sungguh mendatangkan seorang pendidik untuk mengajarkan kepada anaknya Al-Qur'an dan menerangkan As-Sunnah? Sungguh sedikit sekali yang telah berbuat demikian. Alangkah baik kiranya kalau mereka tidak memfasilitasi anak-anaknya dengan sarana kerusakan. Akan tetapi kita lihat justru mereka dengan jeleknya pemikiran dan kurangnya perhitungan malah mendatangkan kejelekan bagi anak-anaknya dengan memfasilitasi dengan kendaraan-kendaraan, sopir pribadi, pembantu (pelayan) serta memenuhi rumahnya dengan barang-barang dan hal-hal yang diharamkan yang melalaikan dari dzikrullah dan ta'at kepada-Nya.

Siapakah di antara kalian wahai Ayah yang memberikan hadiah pada anaknya apabila hafal satu juz dari Al-Qur'anul Karim atau beberapa hadits dari hadits Nabi saw? Sungguh sangat sedikit sekali yang demikian ini. Kita mohon kepada Allah agar memberkahi yang sedikit ini. Kita lihat sebagian manusia, mereka menjanjikan pada anaknya apabila lulus ujian akan diajak pesiar menyusuri pantai yang indah atau wisata ke mancanegara, apakah Eropa atau Amerika, serta mereka menjanjikan dibelikan mobil agar bebas mengukur jalan. Namun adakah di antara meraka yang menjanjikannya untuk diajak umrah atau haji dan mengunjungi masjid Nabi saw?

Setelah semua itu, tahukah engkau wahai Ayah apakah buah dari hasil pendidikan seperti itu? Tahukah engkau apakah hasil dari pendidikan yang mengabaikan masalah akhirat tersebut? Hasilnya adalah Al-Qur'an berganti menjadi majalah, siwak berganti menjadi rokok dan lebih parah lagi mereka akan hidup tidak ubahnya binatang ternak. Tahukah engkau apa di antara yang membedakan kita dari binatang ternak? Kita diberikan fasilitas untuk mengerti bahwa dunia hanyalah sementara. Kita mengetahui bahwa ada kehidupan yang kekal selamanya. Maka selayaknyalah kita untuk berusaha menggapai kebahagiaan di sana. Tetapi apabila tidak demikian maka tidaklah beda dengan binatang bahkan lebih sesat karena kita diberi fasilitas sedangkan mereka tidak. Mereka seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A'raf: 179)